By : Joko Triono


Perusahaan apapun itu, baik skala kecil, menengah, maupun besar, pasti memiliki risiko terjadinya fraud (kecurangan). Sebelum membahas apakah dengan audit fraud di perusahaan mampu terdeteksi, mari terlebih dahulu membahas perbedaan antara akuntansi dan audit, karena akuntansi dan audit adalah dua kegiatan yang berkaitan tetapi mempunyai tujuan yang sangat berbeda. Akuntansi merupakan system informasi yang menghasilkan laporan kepada pihak-pihak yang berkepentingan mengenai aktivitas keuangan dan kondisi perusahaan (Warren dkk, 2005). Sedangkan audit merupakan pemeriksaan yang dilakukan secara kritis dan sistimatis, oleh pihak profesional, terhadap laporan keuangan yang telah disusun oleh manajemen, terkait catatan pembukuan serta bukti pendukungnya, dengan tujuan untuk dapat memberikan pendapat mengenai kewajaran laporan keuangan tersebut (SukirnoAgoes, 2004).

Berikut beberapa jenis audit:

  1. Audit laporan keuangan (general financial statement audit)
  2. Audit kepatuhan atau ketaatan (compliance audit)
  3. Audit operasional/manajemen (operational/management audit)
  4. Audit investigasi (investigative audit)
  5. Audit forensik (forensic audit)
  6. Audit terhadap kecurangan (fraud audit)
  7. Audit keuangan khusus atau yang lebih rinci (special audit)

Perbedaan General Audit dan Fraud Audit

table

Apa itu FRAUD (Kecurangan)? Apa bedanya dengan kesalahan/kekeliruan?

Faktor yang membedakan antara kecurangan dan kekeliruan menurut PSA 70 (SA Seksi 316) adalah apakah tindakan yang mendasarinya, yang berakibat terjadinya salah saji dalam laporan keuangan, berupa tindakan yang disengaja atau tidak disengaja. Jadi kecurangan adalah salah saji yang disengaja, sedangkan kekeliruan adalah salah saji yang tidak disengaja.

 

Mengapa FRAUD bias terjadi?

Terdapat tiga kondisi yang menyebabkan terjadinya fraud atas pelaporan keuangan dan penggunaan asset yang disebut Fraud Triangle (Segitiga Kecurangan).

Fraud_Triangle

Gambar Fraud Triangle (Segitiga Kecurangan)

Pressure

Pressure adalah dorongan yang menyebabkan seseorang melakukan fraud, contohnya hutang atau tagihan yang menumpuk, gaya hidup mewah, ketergantungan narkoba, dll. Pada umumnya yang mendorong terjadinya fraud adalah kebutuhan atau masalah finansial. Tapi banyak juga yang hanya terdorong oleh keserakahan.

Opportunity

Opportunity adalah peluang yang memungkinkan fraud terjadi. Biasanya disebabkan karena internal control suatu organisasi yang lemah, kurangnya pengawasan, dan/atau penyalahgunaan wewenang. Diantara tiga elemen fraud triangle, opportunity merupakan elemen yang paling memungkinkan untuk diminimalisir melalui penerapan proses, prosedur, dan control dan upaya deteksi dini terhadap fraud.

Rationalization

Rasionalisasi menjadi elemen penting dalam terjadinya fraud, dimana pelaku mencari pembenaran atas tindakannya, misalnya:

  1. Bahwasanya tindakannya untuk membahagiakan keluarga dan orang-orang yang dicintainya.
  2. Masa kerja pelaku cukup lama dan dia merasa seharusnya berhak mendapatkan lebih dari yang telah diadapatkan sekarang (posisi, gaji, promosi, dll.)
  3. Perusahaan telah mendapatkan keuntungan yang sangat besar dan tidak mengapa jika pelaku mengambil bagian sedikit dari keuntungan tersebut.

Fraud-Crosshairs1

Apakah dengan Audit, fraud dapat terdeteksi?

Pedoman-pedoman dalam proses audit dapat digunakan dalam mendeteksi adanya fraud, misalnya auditor independen yang menggunakan Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) sebagai pedoman dalam melakukan audit. SA Seksi 316 (Pertimbangan atas Kecurangan dalam Audit Laporan Keuangan), telah memberikan gambaran dan karakteristik kecurangan. Ada dua tipe salah saji yang relevan dengan pertimbangan auditor tentang kecurangan dalam audit atas laporan keuangan, yaitu salah saji yang timbul sebagai akibat dari kecurangan dalam pelaporan keuangan dan kecurangan yang timbul dari perlakuan tidak semestinya terhadap aset. Meskipun kecurangan biasanya disembunyikan, adanya factor risiko atau kondisi lain dapat memperingatkan auditor tentang kemungkinan adanya kecurangan. Sebagai contoh, suatu dokumen yang hilang, buku besar yang tidak seimbang, atau hubungan analitik yang tidak masuk akal. Namun, kondisi tersebut mungkin juga sebagai akibat dari keadaan selain kecurangan. Dokumen mungkin hilang secara sah. buku besar mungkin tidak seimbang karena kekeliruan akuntansi yang tidak disengaja dan hubungan analitik mungkin sebagai akibat dari perubahan faktor-faktor ekonomi yang tidak diketahui. Bahkan laporan tentang kecurangan yang diduga keras terjadi belum tentu selalu dapat dipercaya, karena karyawan atau pihak luar mungkin salah atau mungkin didorong untuk melakukan tuduhan palsu.

©2019 D'Consulting Business Consultant - Total Solution for Your Business Growth

Log in with your credentials

Forgot your details?