Kali ini kami akan membahas mengenai Standar Prosedur Audit

Standar Prosedur Audit

Standar Prosedur Audit

Standar Prosedur Audit

Audit merupakan proses mendapatkan dan mengevaluasi bukti mengenai asersi tentang tindakan ekonomi dan peristiwa dalam rangka untuk menentukan seberapa baik mereka sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan. Dari definisi tersebut, diperoleh empat standar proses audit (Romney and Steinbart, 2015:339), diantaranya yaitu :

  1. Perencanaan Audit yaitu menyelenggarakan apa yang perlu dilakukan, bagaimana dan siapa yang akan melakukan audit. Hal ini dilakukan dengan terlebih dahulu mengidentifikasi risiko, maka cukup dapat memahami ruang lingkup dan tujuan audit dan apa yang akan diminta untuk melakukan audit. Sebagian besar pekerjaan audit akan fokus pada daerah dengan jumlah tertinggi risiko.Ada tiga jenis risiko audit, yaitu :
  • Risiko yang melekat: risiko masalah kontrol dalam ketiadaan kontrol internal.
  • Pengendalian risiko: risiko salah saji material yang akan melewati struktur pengendalian intern.
  • Deteksi risiko: risiko bahwa auditor dan prosedur tidak akan mendeteksi salah saji material atau kesalahan.
  1. Pengumpulan bukti dapat dilakukan dalam berbagai cara sebagai berikut:
  • Observasi
  • Meninjau dokumentasi
  • Wawancara, diskusi, dan kuesioner
  • Pemeriksaan fisik (misalnya, jumlah persediaan)
  • Konfirmasi dengan pihak ketiga
  • Reperforming perhitungan (misalnya, perkiraan seperti penyusutan)
  • Dokumen pendukung vouching (misalnya, penjualan pesanan pelanggan, dokumen pengiriman, faktur penjualan, pembayaran pelanggan)
  • Analytical review (memeriksa tren dan pola baik di dalam organisasi dan industri mereka)
  1. Evaluasi bukti meyakinkan auditor bahwa bukti mendukung atau tidak mendukung pernyataan.
  2. Hasil harus dikomunikasikan dalam bentuk laporan tertulis dan dapat digunakan sebagai rekomendasi kepada manajemen.

Audit sistem informasi menggunakan kerangka berbasis risiko yang memungkinkan auditor untuk meninjau dan mengevaluasi pengendalian internal yang melindungi sistem untuk memenuhi setiap tujuan tersebut (Romney and Steinbart, 2015:340). Kerangka berbasis risiko dapat diterapkan pada tujuan audit sistem informasi dalam empat bidang kerangka, yaitu :

  1. Mengidentifikasi penipuan dan kesalahan (ancaman) yang dapat terjadi yang mengancam setiap tujuan
  2. Identifikasi prosedur pengendalian (mencegah, mendeteksi, memperbaiki ancaman)
  3. Evaluasi prosedur pengendalian
  • Tinjau untuk melihat apakah ada pengendalian dan dalam bagian apa
  • Uji kontrol untuk melihat apakah mereka bekerja sebagaimana dimaksud
  1. Menentukan efek kelemahan pengendalian (Pengendalian kompensasi)

Sekian artikel yang kami bahas, apabila ada yang kurang jelas dari artikel atau ada yang ingin dikonsultasikan, silahkan menghubungi di 031 – 734 6576 / 087 777 510 668 / 0821 3232 8778

 

Created by : Adi Utomo (EC of D’Consulting Business Consultant)

©2019 D'Consulting Business Consultant - Total Solution for Your Business Growth

Log in with your credentials

Forgot your details?