Pada kesempatan kali ini kami KONSULTAN MANAJEMEN CIKARANG akan membahas artikle tentang Opname Piutang

Opname Piutang

Pada artikel sebelumnya saya membahas terkait dengan manajemen cash flow piutang. Untuk kali ini saya akan membahas bagaimana cara melakukan opname piutang / pemeriksaan piutang, namun sebelum masuk ke inti pembahasan mari sedikit meninjau kembali mengenai definisi piutang, dan jenis – jenis piutang.

Piutang dalam bahasa Inggris disebut juga dengan accounts receivable atau biasa disingkat AR. Piutang merupakan salah satu jenis dari transaksi akuntansi yang memiliki pengertian penagihan kepada konsumen yang telah berutang. Pihak yang memberikan utang kepada konsumen ini bermacam-macam, mulai dari orang atau perorangan, perusahaan, ataupun organisasi. Pemberian utang kepada seseorang biasanya karena ia telah mendapatkan layanan atau barang dengan sistem kredit.

Pada dasarnya piutang sendiri dibedakan menjadi 3 jenis :

  1. Piutang Dagang (Account Receivable)

Jenis piutang yang paling umum adalah piutang dagang atau account receivable. Transaksi piutang ini umum terjadi dalam bisnis. Biasanya, piutang dagang terjadi karena pembelian barang dengan harga yang tinggi sehingga mengharuskan pembelinya membayar secara kredit. Piutang dagang biasanya diberikan dengan batas waktu atau umur piutang dagang maksimal 1 tahun. Dikarenakan periodenya yang relatif pendek ini, maka piutang dagang termasuk dalam aktiva lancar.

  1. Piutang Wesel (Notes Receivable)

Jenis piutang selanjutnya yang juga relatif umum adalah piutang wesel atau notes receivable. Piutang wesel merupakan instrumen kredit resmi yang bisa digunakan pemegangnya untuk menagih sejumlah utang seseorang. Terjadinya piutang wesel bisa karena berbagai kondisi. Kondisi pertama adalah karena seseorang meminjam uang tunai dan memberikan pernyataan hitam di atas putih (berupa surat promes) bahwa ia akan melunasi kewajibannya di masa depan dengan waktu dan nominal yang sudah ditentukan.

  1. Piutang Lain-lain (Other Receivable)

Jenis ketiga dari piutang umum dalam pelaksanaan tujuan akuntansi biaya adalah piutang lain-lain. Sesuai namanya, jenis piutang ini tidak terdiri dari satu macam piutang saja. Beberapa akun seperti piutang non usaha, pinjaman pada karyawan, atau piutang yang terjadi akibat transaksi yang tidak berhubungan langsung dengan operasional utama, tergolong dalam jenis piutang lain-lain. Klasifikasi piutang ini tergantung pada masa pelunasannya. Jika piutang lain-lain sanggup dilunasi dalam waktu kurang dari satu tahun, maka piutang ini tergolong aktiva lancar. Sedangkan jika piutang baru sanggup dilunasi dalam waktu lebih dari satu tahun, piutang lain-lain tergolong sebagai aktiva tidak lancar. (Baca Juga: Sistem Akuntansi Biaya)

Setelah kita mengetahui dan meninjau ulang mengenai piutang, sekarang mari kita bahas untuk tujuan opname piutang dan langkah – langkah apa saja yang dilakukan dalam melakukan opname piutang. Pada dasarnya opname piutang merupakan ssalah satu tugas auditor dalam melakukan dan memeriksa pengendalian piutang perusahaan

Tujuan dari dilakukannya opname piutang adalah sebagai berikut

  • Untuk mengetahui apakah terdapat pengendalian intern (internal control) yang baik atas piutang dan transaksi penjualan, piutang dan penerimaan kas.
  • Untuk memeriksa validity (keabsahan) dan authenticity (ke otentikan) dari pada piutang.
  • Untuk memeriksa collectibility (kemungkinan tertagihnya) piutang dan cukup tidaknya perkiraan allowance for bad debts (penyisihan piutang tak tertagih)
  • Untuk mengetahui apakah ada kewajiban bersyarat (contingent liability) yang timbul karena pendiskontoan wesel tagih (notes receivable)
  • Untuk memeriksa apakah penyajian piutang di neraca sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia/Standar Akuntansi Keuangan

 

Setelah mengetahui tujuan dari opname piutang, ada prosedur atau langkah – langkah yang harus dilakukan dalam melakukan opname piutang diantaranya adalah

  • Print Daftar Invoice Belum Lunas Sudah Jatuh Tempo.
  • Bandingkan dengan Daftar Invoice Belum Lunas all, hitung persentase A/R overdue-nya. Pastikan sudah sesuai KPI yang ditetapkan.
  • Cross check ke bagian Faktur untuk memastikan alasan faktur-faktur tersebut belum lunas, kontinuitas penagihan, dan follow up yang telah dilakukan.
  • Untuk pelanggan yang nilai overduenya besar, periksa apakah melebihi plafon kredit yang telah ditetapkan dan cek pejabat yang menyetujui pelolosannya.
  • Untuk pelanggan yang nilai overduenya besar, pastikan bahwa pesanan berikutnya dipending/tidak diloloskan.
  • Periksa konsistensi Faktur dalam melakukan Konfirmasi Piutang yang tercatat dalam form Konfirmasi Piutang.
  • Lanjutkan dengan Faktur Opname
  • Lakukan konfirmasi piutang ke pelanggan jika ditemukan indikasi penyimpangan/kasus atau pelanggan bermasalah.

Sampai bertemu di pembahasan selanjutnya,  Apabila ada yang ingin ditanyakan atau ingin berkonsultasi seputar permasalahan bisnis dan keuangan di perusahaan, silahkan klik tombol dibawah ini dan booking sesi konsultasi gratis dengan tim kami.

Created By : Riki  (D’Consulting Business Consultant)

©2020 D'Consulting Business Consultant - Total Solution for Your Business Growth

Log in with your credentials

Forgot your details?