Pada artikel kali ini, akan dibahas mengenai Melemahnya Rupiah yang sedang ramai diperbincangkan

Melemahnya Rupiah

Melemahnya Rupiah

Melemahnya Rupiah

Sejak pergantian era pemerintahan baru, perekonomian Indonesia tidak kunjung membaik. Bahkan akhir-akhir ini, melemahnya rupiah menjadi sorotan. Rupiah hampir menyentuh level Rp15.000, dan saat ini rupiah mulai turun hampir Rp13.000,00, per dolar AS. Pengusaha mulai ketar-ketir, para pengamat ekonomi mulai berspekulasi, tidak sedikit yang mengatakan Indonesia sedang diambang krisis seperti krisis ekonomi 1998. Namun, keliru jika pengamat berpendapat bahwa kondisi saat itu mirip dengan kondisi saat krisis tahun 1998. Saat krisis 1998 rupiah terjun bebas dari Rp4.000, ke angka Rp17.000.

Krisis 1998 disebabkan oleh buruknya pengelolaan hutang negara, kondisi politik yang tidak stabil, korupsi yang merajalela dan rapuhnya fundamental ekonomi Indonesia. Saat ini, pengelolaan hutang negara lebih baik dan transparan, kondisi politik yang stabil terbukti dengan kondusifnya proses pergantian pemerintahan yang ditandai dengan pesta demokrasi 5 tahun sekali. Menguatnya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang tidak tebang pilih dalam memberantas koruptor dari pengusaha hingga politisi. Kuatnya fundamental ekonomi kita, dilihat dari pertumbuhan ekonomi kita dimana meskipun pasar global sedang lesu akan tetapi perekonomian kita terus tumbuh. Masihkah kita menyamakan kondisi ekonomi saat ini dengan krisis 1998? Terlepas dari kekhawatiran itu semua, ada “berkah” dibalik melemahnya rupiah.

Beberapa “berkah” dibalik melemahnya rupiah, antara lain :

1. Produk-produk kita akan lebih kompetitif diluar negeri

Anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar amerika otomatis membuat produk-produk  kita murah meriah di pasar global, kita tidak perlu membuat kebijakan kontroversial seperti yang dilakukan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) yang dengan sengaja mendevaluasi nilai tukar mata uangnya terhadap dolar sehingga membuat negara Paman Sam berang dengan ulah negara tirai bambu tersebut. Tiongkok sengaja menurunkan nilai tukar mata uang mereka agar produk-produk ekspor mereka lebih kompetitif di pasar global secara Tiongkok terkenal dengan produk-produk murahnya dibanding negara lain. Hal ini mereka lakukan karena aktivitas ekspor mereka turun. Nah, oleh karena itu, mengapa kita harus cemas dengan anjloknya nilai tukar mata uang kita. Seharusnya kita bersyukur karena dengan kejadian ini produk-produk kita menjadi murah meriah di pasar dunia dan ini harus dijadikan momentum kebangkitan ekonomi kita dengan terus menggenjot ekspor sehingga cadangan devisa kita aman.

2. Pengusaha-pengusaha kita akan lebih kreatif

Selama ini para pengusaha kita enak-enakan mendatangkan produk-produk luar negeri karena lebih mudah, cepat dan murah. Bahkan sampai bahan bakunya pun yang melimpah ruah di negeri kita mereka datangkan dari luar negeri saking pemalasnya pengusaha kita. Dengan melemahnya nilai tukar rupiah, mereka tidak bisa enak-enakan saja mendatangkan barang dari luar negeri. Kalaupun mereka nekat, dijamin tidak bakal laku di pasaran karena harga lebih mahal sedangkan kualitasnya sama. Lebih baik memproduksi sendiri didalam negeri, toh bahan baku melimpah ruah dari Sabang sampai Merauke. Oleh karena itu, mau tidak mau mereka harus kreatif mengolah bahan baku negara kita. Mereka tidak bisa terus menerus bergantung pada produk luar negeri. Mereka harus memproduksi sendiri mulai dari bahan baku menjadi bahan setengah jadi,bahan setengah jadi menjadi bahan jadi. Pokoknya semua menjadi buatan dalam negeri, yang pada akhirnya membuat arah ekonomi kita tidak lagi berbasis impor melainkan berbasis ekspor.

3. Muncul budaya anti produk luar negeri

Sekilas orang-orang akan timbul pertanyaan, apa hubungannya dengan nilai tukar rupiah. Berikut ilustrasinya : Ibu A adalah seorang istri dari pengusaha kaya, suaminya seorang trader sukses. Ibu A memiliki hobi shopping, setiap kali shopping dia selalu mengajak temannya yakni Ibu B, seorang istri dari pejabat eselon II. Setiap kali shopping, Ibu A selalu memburu barang-barang impor, baginya harga bukan masalah. Berbeda dengan Ibu B, suaminya yang merupakan pejabat selalu mewanti-wanti agar membeli produk-produk dalam negeri saja seperti yang dianjurkan pemerintah. Sejak anjloknya nilai tukar rupiah, banyak perusahaan yang terkena imbasnya tidak terkecuali perusahaan suami ibu A. Perusahaan suami Ibu A mulai lesu, omsetnya menurun bahkan rugi. Saat mereka shopping, Ibu B kaget Ibu A masuk ke gerai tas buatan bandung.” Gak papa Bu, buatan bandung gak kalah bagus dengan buatan luar negeri”, jawab Bu A. Nah, itu tidak hanya terjadi pada Ibu A saja, banyak para ibu diluar sana mengalami hal yang sama, mereka pasti berpikir dua kali untuk membeli produk-produk impor. Bayangkan saja, yang awal harganya 5 juta hampir naik 2 kali lipat. Jika ibu-ibu seperti Ibu A berpikir 2 kali untuk membeli barang-barang impor, apalagi Ibu-ibu kelas menengah ke bawah. Kalau sudah seperti itu, tidak perlu lagi pemerintah gembar-gembor sana sini menghabiskan uang mengajak masyarakat supaya membeli produk lokal. Mereka dengan sendirinya akan beralih membeli produk dalam negeri yang selain harganya lebih murah, kualitasnya juga tidak kalah dengan buatan eropa.

Nah, dari semua ulasan itu, masihkah kita cemas dengan nilai tukar rupiah atau malah bahagia? Walau bagaimana pun kita harus tetap berpikir positif. Bagaimana mau maju jikalau kita sendiri, negeri yang memiliki kekayaan alam melimpah dari Sabang sampai Merauke selalu pesimis setiap kali terjadi guncangan ekonomi, saling menyalahkan bukan solusi. Mari kita bersatu dan jadikan ini awal kebangkitan ekonomi baru menuju Indonesia satu, maju dan sejahtera.

Sekian informasi dari kami dan dapat bermanfaat bagi para pembaca. Apabila ada yang kurang jelas dari artikel atau ada yang ingin dikonsultasikan, silahkan menghubungi di 031 – 734 6576 / 087 777 510 668 / 0821 3100 8700

Created by : Badrut Tamam (EC of D’Consulting Business Consultant)

©2019 D'Consulting Business Consultant - Total Solution for Your Business Growth

Log in with your credentials

Forgot your details?