Konsultan Keuangan Surabaya kali ini ingin membahas tentang bagaimana cara melakukan budgeting untuk membuat sebuah perusahaan baru.

Konsultan Keuangan Surabaya

Konsultan Keuangan Surabaya

Konsultan Keuangan Surabaya menemukan bahwa banyak sekali pengusaha yang membuat perusahaan baru tanpa ada perencanaan yang matang. Hal ini tentunya dapat berdampak pada meruginya suatu perusahaan dan bahkan perusahaan tersebut dapat tutup/bangkrut. Tentunya untuk membuat suatu perusahaan hal yang utama dan harus dilakukan oleh perusahaan adalah melakukan perencanaan keuangan. Perencanaan itu dimulai dari menghitung terlebih dahulu perkiraan biaya-biaya yang akan ditanggung oleh perusahaan pada awal pembangunan sampai biaya setiap bulannya.

Konsultan Keuangan Surabaya

Coba kita bahas satu persatu. Pertama kali tentunya pengusaha harus menghitung terlebih dahulu biaya investasi awal dari membuat suatu perusahaan. Investasi tersebut bisa berupa investasi untuk aset gedung dan tanah, investasi untuk pembangunan, investaasi untuk alat dan kendaraan, serta investasi untuk inventaris. Tak lupa biasanya ada biaya yang dikeluarkan oleh pengusaha untuk mendanai kegiatan sebelum proses operasional berlangsung, yang biasanya kita sebut sebagai biaya praoperasioal. Tentunya untuk biaya investasi awal tersebut harus kita bagi menjadi beberapa macam kelompok biaya investasi, seperti seluruh pengeluaran untuk aset akan kita masukkan sebagai kelompok aset dan untuk pengeluaran biaya-biaya praoperasional akan dikelompokan menjadi kelompok biaya praoperasional. Untuk aset dan biaya ini biasanya akan disusutkan atau diamortisasi sesuai dengan umur tahun yang disepakati oleh pengusaha. Biasanya aset bisa disusutkan antara 4 – 20 tahun, sedangkan biaya praoperasional bisa disusukan antara 4 – 8 tahun.

Dari pengelompokan biaya investasi awal tersebut, perlu lagi didetailkan untuk komposisi biaya tetap (yang pasti akan terjadi) dalam melakukan kegiatan operasional. Seperti biaya gaji, biaya listrik, biaya air, biaya telepon, biaya alat tulis kantor, biaya inventaris, biaya bbm, biaya operasional kantor, dsb. Biaya-biaya yang didetailkan tadi sifatnya adalah estimasi. Lalu dari perhitungan tersebut tidak lupa juga memperkirakan komponen HPP (Harga Pokok Penjualan) yang terlibat dalam siklus penjualan. Dari seluruh biaya yang sudah terkumpul, maka kita harus jumlahkan seluruh biaya-biaya estimasi tadi, ditambahkan dengan biaya penyusutan dari aset dan biaya amortisasi dari biaya praoperasional tadi, lalu ditemukanlah total biaya tetap yang mungkin akan terjadi diperusahaan. Lalu dari total biaya tersebut, kita harus perbandingkan dengan HPP yang mungkin akan terjadi diperusahaan. Contoh : semisal PT. A memiliki total biaya, biaya penyusutan dan biaya amortisasi sebesar 100juta sebulan, dan HPP dari nilai penjualan adalah sebesar 70% (laba kotor sebesar 30%), maka target omzet yang harus dicapai adalah minimal 100juta dibagikan 30%. Maka akan ketemu kira-kira omzet yang harus dicapai setiap bulan adalah sekitar 330juta. Maka omzet 330 juta adalah posisi BEP (Break Even Point), dimana perusahaan tidak mengalami untung ataupun rugi. Lalu dari omzet tersebut harus dibagi sebanyak total hari kerja yang terjadi. Semisal setiap bulan dianggap 25 hari kerja efektif, maka 330juta dibagi 25, maka omzet sehari yang harus dicapai minimal 27,5 juta dan ini adalah target minimal yang harus diinfokan kepada tim penjualan untuk dapat mencapainya.

Setelah mengetahui hal ini, maka pengusaha dapat menilai apakah usaha baru yang akan dilakukan ini, dapat/layak dilakukan? Tentunya keputusan ini kembali kepada anda dan insting anda sebagai pengusaha. Sekian sedikit tips yang bisa saya bagikan, semoga dapat bermanfaat. Apabila ada pertanyaan lebih lanjut, silakan menghubungi hotline kami di 031- 734 6576 / 081 23 23 29 638 / 0878 533 72 768 atau anda juga dapat mengemail pertanyaan anda ke dconsultingbusinessconsultant@gmail.com.

©2019 D'Consulting Business Consultant - Total Solution for Your Business Growth

Log in with your credentials

Forgot your details?