Pada kesempatan kali ini kami KONSULTAN PAJAK SURABAYA akan membahas artikle tentang Deductible VS Non Deductible Expense

Deductible Vs Non Deductible Expense

Pernahkah anda mendengar istilah Deductible Expense? Ya istilah tersebut sangat sering sekali didengar dalam dunia perpajakan. Yang dimaksud dengan Deductible Expense expense adalah biaya-biaya perusahaan yang boleh dibebankan dalam Laporan Keuangan Fiskal. Seringkali dalam transaksi-transaksi perusahaan kita menemui berbagai macam pengeluaran, dari situ Dirjen Pajak mengeluaran aturan yang mengatur biaya apa saja yang boleh dibebankan sebagai pengurang komponen laba bersih perusahaan.

Pertanyaannya adalah tipe biaya seperti apa yang boleh dibebankan dalam laporan keuangan fiskal perusahaan? Yakni adalah Pengeluaran dan biaya yang berkaitan dengan kegiatan mendapatkan, memelihara, dan menagih penghasilan penghasilan perusahaan. Poin penting yang perlu digarisbawahi adalah kegiatan mendapatkan, memelihara, dan menagih penghasilan. Contohnya adalah biaya gaji karyawan, biaya listrik, biaya ekspedisi, biaya telekomunikasi, biaya-biaya tersebut adalah tipe biaya yang terkait langsung dengan operasional perusahaan dalam kegiatan mendapatkan, memelihara, dan menagih penghasilan.

Kemudian selanjutnya tipe biaya seperti apa yang tidak boleh dibebankan perusahaan pada Laporan Keuangan Fiskal? Berkebalikan dengan Deductable expense, maka non deductible expense adalah biaya-biaya yang tidak terkait dengan kegiatan mendapatkan, memelihara, dan menagih penghasilan. Contohnya adalah pengeluaran terkait pembagian laba, hibah/sumbangan, pemberian natura/kenikmatan, biaya pribadi direksi, dll. Biaya-biaya tersebut sama sekali tidak terkait dengan operasional perusahaan dalam rangka kegiatan mendapatkan, memelihara, dan menagih penghasilan, maka dari itu tidak boleh dibebankan.

Terkait dengan hal-hal tersebut, berikut ada sedikit trik terkait dengan pembebanan biaya perusahaan ini supaya bisa masuk dalam kategori deductible expense. Sebagai contoh, biaya pengobatan karyawan bisa diakui sebagai tambahan penghasilan karyawan dalam bentuk tunjangan kesehatan, karena apabila hanya diakui sebagai biaya pengobatan maka akan dianggap sebagai natura oleh petugas pajak.

Kemudian pada perusahaan yang dikenakan tarif pajak final 1%, maka pemberian tunjangan karyawan diakui sebagai pemberian natura, supaya tidak dikenakan tarif pajak PPh 21, karena pajak perusahaan langsung dikenakan dari omset, sehingga tidak banyak berpengaruh apabila diakui sebagai beban penghasilan karyawan. Lalu ada lagi terkait.

Lalu ada lagi terkait biaya perjalanan dinas, sebisa mungkin biaya perjalanan dibuat jelas pertanggungjawabannya, terutama terkait bukti transaksi. Sebagai contoh, apabila ada sisa dana perjalanan dinas bisa dikembalikan beserta rincian nota pengeluarannya. Apabila biaya perjalanan dinas tidak bisa dibuktikan dengan bukti seperti itu, maka biasanya petugas pajak akan mengakuinya sebagai tambahan penghasilan karyawan, yang akan menyebabkan perusahaan menambah biaya pajak PPh 21, dan lebih parahnya lagi bisa diakui sebagai pemberian natura yang langsung dikoreksi karena dianggap non deductible expense.

Demikian perbedaan antara deductible expense dan non deductible expense beserta contoh penerapannya di lapangan. Semoga sedikit artikel di atas bisa menambah pengetahuan pembaca mengenai tipe biaya-biaya operasional perusahaan.

Sampai bertemu di pembahasan selanjutnya dan salam Artikel.  Apabila ada yang ingin dikonsultasikan mengenai artikel ini ataupun permasalah bisnis anda yang lain, bisa hubungi kami di 087 777 510 668 / 0821 3232 8778 / 031 734 6576.

Created By : Lucas (EC Of D’Consulting Business Consultant)

©2019 D'Consulting Business Consultant - Total Solution for Your Business Growth

Log in with your credentials

Forgot your details?