SUNSET POLICY 2015 ! PENTINGKAH ???

Penulis : Dedy Sidarta

(CEO of D’Consulting Business Consultant)

 

Tahun 2015 ini merupakan tahun reformasi pajak yang digalakan oleh Presiden Jokowi dan para mentri-mentrinya. Tak luput halnya dengan aspek perpajakan di Indonesia. Tahun 2015 ini pendapatan pajak di Indonesia ditargetkan naik 45% dari pada tahun 2014 yaitu sebesar 1.295 triliun rupiah, dalam hal ini banyak praktisi yang mengatakan bahwa hal tersebut sangat tidak mungkin terjadi.

Ternyata dalam tahun 2015 ini khususnya dibulan Mei 2015 diberlakukan peraturan SUNSET POLICY yang terbaru dimana didasari oleh Peraturan Mentri Keuangan PMK/03/2015, dimana dalam aturan ini pemerintah memberikan penghapusan sanksi administrasi dan bunga terhadap Wajib Pajak Badan dan Wajib Pajak Perorangan yang yang melakukan pembetulan SPT (Surat Pemberitahuan) baik masa maupun tahunan sebelum tanggal 1 Januari 2016. Pembetulan ini boleh dilakukan baik diakibatkan karena keterlambatan penyampaian SPT, keterlambatan pelaporan atau penyetoran pajak maupun dikarenakan kesalahan penyampaian SPT.

Ternyata dibalik diberlakukan Sunset Policy 2015 ini, pemerintah tidak hanya menghimbau para wajib pajak untuk membetulkan SPT yang pernah dilaporkan, namun juga setidaknya sedikit adanya keharusan untuk membetulkan SPT tersebut. Khususnya untuk para wajib pajak badan ataupun wajib pajak pribadi, dimana menurut pemberitahuan dari Direktorat Jenderal Pajak bahwa saat ini pihak fiskus pajak sudah banyak mengetahui data-data aset dan keuangan yang dimiliki oleh Wajib Pajak. Hal itu bukan hanya gertakan saja, namun memang pada saat ini hampir seluruh aset yang dimiliki oleh Wajib Pajak sudah terkait dengan NPWP dan EKTP. Seperti tanah, rumah, mobil, saham, tabungan, deposito, dsb. Otomatis begitu aset-aset tersebut link dengan EKTP ataupun dengan NPWP langsung, maka secara otomatis para fiskus akan dapat mengecek kebenaran harta yang dimiliki oleh seorang wajib pajak.

Lalu apa yang harus diperhatikan oleh wajib pajak sebelum melakukan sunset policy? Pertama-tama yang harus diperhatikan terlebih dahulu adalah apakah SPT yang disampaikan sudah sesuai dengan keadaan riil dari perusahaan atau pribadi anda. Kesesuaian itu mencakup pelaporan omzet, biaya dan laba yang diperoleh. Serta tidak lupa dari tambahan aset yang dimiliki dan dilaporkan di SPT. Sebagai contoh Bp. A memiliki aset/kekayaan diakhir tahun 2013 sebesar 500juta dan sudah dilaporkan di SPT 2013 untuk kekayaan tersebut sebesar 500juta. Ternyata di tahun 2014 Bp. A memperoleh penghasilan Rp 250juta sedangkan aset yang dilaporkan di akhir tahun 2014 adalah 1 Milyar. Maka hal ini tidak sepadan dengan penghasilan yang dilaporkan oleh Bp. A dan otomatis dalam hal ini Bp. A sebaiknya melakukan pembetulan SPT tahunan di moment sunset policy ini.

Hal-hal apa yang harus diperhatikan saat melakukan sunset policy? Untuk melakukan sunset policy hal pertama yang harus diperhatikan adalah berapa jumlah aset riil yang dimiliki oleh wajib pajak sampai dengan akhir tahun 2014. Aset tersebut dapat berupa uang tunai, tabungan, deposito, tanah, bangunan, saham, persediaan barang untuk dijual, emas, dsb. Apabila aset riil yang dimiliki sudah dilaporkan semua didalam SPT tahunan maka tentunya wajib pajak sudah tidak perlu melakukan sunset policy. Namun apabila belum, maka tentunya wajibnya sebaiknya mengikuti program sunset policy ini.

Lalu langkah berikutnya setelah mengetahui selisih dari jumlah aset riil yang dimiliki dan aset yang sudah dilaporkan, wajib pajak sebaiknya melakukan perhitungan mundur atau dengan kata lain memeriksa kembali SPT yang sudah dilaporkan, khususnya untuk bagian omzet dan cost. Apakah omzet yang dilaporkan sudah sesuai dengan omzet riil ataukah masih ada omzet / pendapatan diluar usaha yang mungkin belum dilaporkan. Untuk omzet riil tentunya kita tidak bisa berkilah bahwa apabila ada omzet yang belum dilaporkan secara perpajakan tentunya hal tersebut melanggar hukum dan undang-undang perpajakan. Namun untuk penghasilan lain, dalam hal ini ada beberapa penghasilan lain yang bukan merupakan objek pajak ataupun objek pajak tapi sudah dikenai pph final yang sering kali lupa dicantumkan oleh wajib pajak didalam SPT Tahunan yang dimiliki.

Lalu apa saja contoh dari penghasilan lain bukan objek pajak atau yang dikenakan pph final tersebut? untuk penghasilan lain bukan objek pajak seperti yang mungkin sering terjadi didalam kehidupan sehari-hari adalah pemberian aset dari orang tua kepada anak atau kebalikannya, dimana aset tersebut sudah dilaporkan dan menjadi harta yang sah didalam SPT tahunan pihak yang menghibahkan. Harta tersebut biasanya bisa berupa uang tunai, rumah, kendaraan dan sebagainya. Bisa juga dalam bentuk tertulis seperti warisan dari kakek kepada cucunya atau kepada anaknya, dimana warisan tersebut telah dilegalisasi dihadapan notaris dan sudah dilaporkan didalam SPT tahunan pihak yang mewariskan, hal tersebut juga bisa dikategorikan bukan objek pajak. Ada 1 lagi penghasilan yang bukan merupakan objek pajak yang sering kali lupa dilaporkan oleh wajib pajak saat pengisian SPT, hal itu adalah penghasilan yang berasal dari CV. Jadi apabila anda sebagai wajib pajak dan anda memiliki CV, lalu CV tersebut mendapatkan keuntungan dan anda mengambilnya untuk dibelikan aset atas nama pribadi, maka hal tersebut harap untuk dilaporkan. Karena keuntungan dari CV tersebut apabila ditarik ke SPT pribadi merupakan bukan objek pajak dan bisa dilaporkan saja tanpa harus menambah pajak yang harus dibayar.

Untuk PPh final dimana sering sekali lupa ditambahkan di SPT tahunan wajib pajak seperti bunga deposito, bunga tabungan dan penghasilan dari jual beli saham. Biasanya ketiga hal tersebut luput dari pantauan wajib pajak untuk dilaporkan ke SPT tahunan mereka. Padahal hal tersebut bisa berdampak pada penambahan aset yang dimiliki, tentunya akan berdampak buruk apabila penghasilan final tersebut tidak ditampakan di SPT, karena nantinya pihak fiskus bisa melakukan pemeriksaan terhadap SPT wajib pajak tersebut. Dari sekilas artikel yang saya buat, sudahkah anda memutuskan untuk mengikuti sunset policy atau tidak???

©2019 D'Consulting Business Consultant - Total Solution for Your Business Growth

Log in with your credentials

Forgot your details?