Kali ini kami Konsultan Pembukuan Manado akan membahas korelasi laporan keuangan dengan laporan pajak yang mungkin anda belum ketahui.

Konsultan Pembukuan Manado

Konsultan Pembukuan Manado

Konsultan Pembukuan Manado

Melalui artikel ini saya ingin memberikan sedikit gambaran mengenai korelasi Laporan Keuangan dengan aspek perpajakan yang ditanggung oleh sebuah perusahaan.

Disini tidak semua aspek pajak akan kami Konsultan Pembukuan Manado bahas, hanya pajak-pajak yang umum dan banyak ditanggung oleh perusahaan pada umumnya. Disini yang akan saya bahas adalah terkait PPN Masukan, PPN Keluaran, PPh 21, PPh 23, PPh 25, dan juga PPh 4 (2).

  1. PPN MASUKAN : Berbicara mengenai PPN tentunya sangat erat kaitannya dengan transaksi penjualan maupun pembelian perusahaan. PPN Masukan disini akan terkait dengan transaksi pembelian perusahaan. Dalam hal ini untuk mengecek kevalidan nilai PPN masukan bisa di kroscek dengan total nilai faktur pembelian, dengan asumsi semua transaksi pembelian terkait dengan Barang Kena Pajak. Jika semua faktur pembelian sesuai dengan faktur PPNM yang terbit, bisa dikatakan nilai PPN Masukan sudah benar.
  2. PPN KELUARAN : Aspek pajak yang satu ini sangat terkait dengan penjualan. Untuk melakukan verifikasi terkait PPN keluaran cukup mudah karena hanya perlu membandingkan antara omset dengan faktur PPN keluaran, dengan catatan semua barang yang di jual adalah Barang Kena Pajak.
  3. PPh 21 : Aspek pajak PPh 21 ini biasanya sangat terkait dengan gaji karyawan atau juga potongan pajak atas jasa yang diberikan oleh perseorangan. Terkait PPh 21 ini biasanya terdapat akun Piutang PPh 21 dan Hutang PPh 21. Terkait dengan akun Hutang PPh 21 ini biasanya bisa di korelasi dengan pemotongan gaji karyawan maupun rekap gaji karyawan, artinya Hutang PPh 21 ini identik dengan perusahaan memotong gaji karyawan. Sedangkan terkait Piutang PPh 21 ini biasanya kasusnya pada perorangan (bukan perusahaan) yang di potong penghasilannya dan biasanya mendapat berupa bukti potong PPh 21. Untuk perusahaan jarang didapati ada akun hutang PPh 21.
  4. PPh 23 : Aspek pajak PPh 23 ini biasanya terkait dengan imbal hasil atas jasa yang di berikan. Sama dengan PPh 21, untuk kasus PPh 23 ini juga terdapat 2 tipe akun yakni piutang dan hutang PPh 23. Piutang PPh 23 disini terkait dengan pemotongan imbal hasil jasa yang diterima perusahaan dari pihak lain. Perusahaan yang di potong di sini akan mendapatkan bukti potong PPh 23 dan mencatatnya sebagai piutang PPh 23. Berkebalikan dengan Piutang PPh 23, terkait Hutang PPh 23 ini kasusnya adalah perusahaan yang memotong imbal hasil atas jasa yang dibayarkan perusahaan pada pihak lain dan perusahaan menerbitkan bukti potong pph 23.
  5. PPh 25 : Aspek pajak PPh 25 ini merupakan angsuran pajak bulanan. PPh 25 ini biasanya masuk ke dalam sisi aktiva dengan nama akun Piutang PPh 25. Mengapa PPh 25 masuk sebagai aktiva? Karena PPh 25 yang dibayarkan ini merupakan kredit pajak yang bisa di kreditkan pada saat SPT Tahunan. Jadi untuk mengkorelasi PPh 25 ini bisa di bandingkan dengan akun PPh 25 di sisi aktiva.
  6. PPh 4 (2) : Aspek pajak PPh 4 (2) ini merupakan jenis pajak yang bersifat final. Jadi secara pembukuan tidak masuk ke dalam Neraca perusahaan. untuk mengecek PPh 4 (2) ini bisa di lihat dari Laporan Laba Rugi Perusahaan dikarenakan jenis pajak ini akan langsung di biayakan. Biasanya untuk PPh 4 (2) ini di bukukan dengan akun Biaya Pajak.

Demikian sedikit tips untuk bisa mengecek korelasi antara aspek perpajakan yang di tanggung perusahaan jika di lihat dari Laporan Keuangan. Semoga bermanfaat, apabila ada yang kurang jelas dari artikel atau ada yang ingin dikonsultasikan, silahkan menghubungi di 087 777 510 6680821 3232 8778 / 031 734 6576.

©2019 D'Consulting Business Consultant - Total Solution for Your Business Growth

Log in with your credentials

Forgot your details?