Dalam kesempatan pada kali ini, akan dibahas mengenai Jangan Tertipu Dengan Laba Besar

Jangan Tertipu Dengan Laba Besar

Jangan Tertipu Dengan Laba Besar

Jangan Tertipu Dengan Laba Besar

Dewasa ini Laporan keuangan sudah menjadi hal yang wajib dimiliki oleh suatu perusahaan. Sudah bukan jamannya lagi jika perusahaan harus mencatat segala transaksi operasionalnya secara manual. Maka dari itu, banyak orang sekarang sudah sering mendengar yang namanya laporan laba rugi, dimana di dalamnya memberikan info mengenai keuntungan atau laba perusahaan.

Suatu ketika, klien saya dengan wajah berseri berbicara jika bulan ini perusahaannya untung besar, sambil dia menunjukkan laporan keuangan perusahaannya pada saya. Sontak saya ikut senang mendengar beliau bercerita demikian. Kemudian saya mulai melihat isi laporan keuangan perusahaan bapak tersebut. Mengikuti cara kerja seorang bos dalam melihat laporan keuangan, saya langsung membuka halaman terakhir dari laporan laba rugi, saya pun kagum dengan laba bersih yang didapat perusahaan ini. Sekilas memang omset perusahaan ini meningkat, biaya-biaya yang dikeluarkan pun cenderung mengalami penurunan, “luar bisa efisiensi perusahaan ini”, gumam saya dalam hati. Tetapi insting saya sebagai konsultan pun mulai timbul, sehingga saya penasaran ingin mengetahui lebih jauh lagi mengenai laporan keuangan perusahaan ini. Kemudian saya mulai membuka laporan Neraca perusahaan, dimulai dari sisi aktiva perusahaan. Pertama kali saat melihat neraca, saya cukup terkejut melihat nilai kas bank perusahaan yang cukup minim. Bagaimana mungkin perusahaan dengan laba sedemikian besar hanya memiliki saldo kas bank hanya senilai itu? Kemudian mata saya lanjut turun kebawah, kali ini tidak kalah terkejut melihat nilai piutang usaha perusahaan yang luar biasa besar. Semakin saya pensaran, kali ini saya melihat ada akun “bangunan dalam proses”, rupanya perusahaan ini sedang dalam tahap pembangunan gudang baru. Sampai disini saya mulai melihat klien saya sedikit gelisah ekspresinya. Kembali saya arahkan pandangan saya turun kebawah lagi, kali ini saya melihat sisi hutang perusahaan, sedikit mengejutkan saya ternyata hutang usaha perusahaan ini tergolong cukup besar juga. Sampai dititik ini saya sudah mendapatkan gambaran mengenai kondisi keuangan perusahaan ini. Ternyata perusahaan ini hanya menang di laba doang tapi gak punya duit, simpelnya seperti itu.

Tak lama berselang klien saya kembali bercerita, “saya ini untung besar tapi kok duitnya tidak kelihatan ya? Mau bayar supplier saja bingung”.  Saya pun berkata dalam hati “Tepat seperti analisa saya, perusahaan ini sebenarnya gak punya duit”. Kemudian saya mulai menjelaskan pada klien saya bahwasannya perusahaan beliau memang untung besar, hanya saja perusahaan ini sangat tidak memperhatikan cash flow nya. Bayangkan saja, perusahaan mampu menjual barang begitu besar, tapi banyak yang macet di piutang usaha, “bapak harus optimalkan pekerjaan bagian penagihan” tukas saya. Kemudian terkait pembangunan, bapak perlu kontrol lagi pengeluaran2nya, sesuaikan dengan kondisi kas bank perusahaan. Selanjutnya terkait hutang usaha, bagian AR (divisi hutang) harus bisa mengatur jadwal pembayaran berdasarkan termin pembayaran . Kemudian klien saya mulai mulai mengangguk-anggukan kepala.

Jadi kesimpulannya, jangan mudah berpuas diri hanya dengan melihat keuntungan perusahaan. Poin penting eksistensi sebuah perusahaan sebenarnya bukanlah di laba rugi semata, tapi seberapa bisa aset perusahaan mampu menghasilkan keuntungan, serta seberapa bisa perusahaan mengkonversi keuntungan menjadi duit. Terima kasih

Sekian artikel mengenai tahapan Jangan Tertipu Dengan Laba Besar ini kami bahas. Apabila ada yang ingin dikonsultasikan mengenai artikel ini ataupun permasalah bisnis anda yang lain, bisa hubungi kami di 087 777 510 668 / 0821 3232 8778 / 031 734 6576.

Created by : Lukas Setyawan (SEC of D’Consulting Business Consultant)

©2019 D'Consulting Business Consultant - Total Solution for Your Business Growth

Log in with your credentials

Forgot your details?