Topik yang akan dibahas kali ini adalah PSAK no 19 : aset tidak berwujud

PSAK no 19 : Aset Tidak Berwujud

PSAK no 19 : Aset Tidak Berwujud

PSAK no 19 : Aset Tidak Berwujud

PSAK no 19 : aset tidak berwujud, atau lebih dikenal dengan intangible aset. Mungkin dari kita masih ada yang belum familiar dengan istilah aset tidak berwujud. Jangan disalah artikan bahwa aset tidak berwujud termasuk aset lancar karena tidak berwujud. Dalam akuntansi kita mengenal suatu penurunan nilai atau yang dalam istilah akuntansi adalah penyusutan. Dimana penyusutan ini bertujuan untuk mengurangi nilai aset berdasarkan umur ekonomis yang ditentukan atas aset tersebut. Aset yang memiliki umur ekonomis yang lebih dari satu tahun adalah aset tetap atau aset tidak berwujud. mungkin aset tetap kita sudah memahami bahwa untuk pengurangan nilai aset dengan cara penyusutan akan tetapi untuk aset tidak berwujud pengurangan nilai aset dilakukan dengan cara amortisasi. Mungkin ada dari kita ada yang belum mengetahui apa itu amortisasi, secara harfiah amortisasi adalah suatu penurunan atau pengurangan nilai aset tidak berwujud secara bertahap dalam rentang jangka waktu tertentu disetiap periode akuntansi.

Secara umum metode amortisasi aset tidak berwujud memiliki dua metode yaitu saldo menurun dan metode garis lurus. Sebenarnya kedua metode  ini sama dengan metode yang digunakan dalam metode penyusutan untuk aset tetap. Karena sebetulnya antara depresiasi dan amortisasi adalah keduanya sama hanya berbeda untuk di klasifikasi jenis asetnya saja. Jika aset tetap menggunakan depresiasi sedangkan untuk aset tidak berwujud menggunakan amortisasi. Yang masuk dalam klasifikasi sebagai aset tidak berwujud adalah goodwill, hak paten, hak cipta dan franchise. Aktiva tidak berwujud diakui sebesar harga perolehan dimana hal ini juga sama dilakukan untuk pengakuan aset tetap.

Setelah kita membahas secara umum mengenai aset tidak berwujud maka saatnya kita akan membahas mengenai aset tidak berwujud berdasarkan PSAK no 19. Dalam PSAK no 19 dikhususkan untuk mengatur tentang perlakuan aset tidak berwujud. Dimana dalam PSAK ini dijelaskan mengenai definisi, mengukur nilai wajar aset tidak berwujud, model biaya dan model revaluasi, masa manfaat serta pengungkapan untuk aset tidak berwujud. baik untuk awal definisi aset tidak berwujud menurut PSAK no 19 adalah aset nonmoneter yang dapat diidentifikasi tanpa wujud fisik. Aset tidak berwujud diakui sebesar harga perolehan atau di PSAK disebut sebagai Biaya perolehan, dimana biaya perolehan menurut PSAK no 19 adalah jumlah kas atau setara kas yang dibayarkan atau nilai wajar sumber daya dikeluarkan untuk memperoleh aset pada saat aset tersebut diakuisisi atau dibangun, atau saat tersedia, nilai tersebut diatribusikan pada aset ketika pengakuan awal sesuai dengan persyaratan tertentu dalam PSAK. Entitas sering kali mengeluarkan sumber daya maupun menciptakan liabilitas dalam perolehan, pengembangan, pemeliharaan, atau peningkatan sumber daya tidak berwujud semisal teknologi, design dan merk dagang.

Menurut PSAK no 19 pengukuran nilai wajar aset tidak berwujud yang diperoleh dari hasil kombinasi bisnis adalah aset tidak berwujud yang dihasilkan dari kombinasi bisnis mungkin dapat dipisahkan atau muncul dalam kontrak atau hak hokum lainnya namun dengan syarat harus dipisahkan bersama-sama dengan aset berwujud atau aset tidak berwujud lainnya. Misalnya merk dagang dari suatu air mineral pegunungan yang mungkin berhubungan dengan suatu mata air tertentu dan tidak dapat dijual terpisah dari mata airnya.

Sedangkan masa manfaat adalah jangka waktu suatu aset dapat diharapkan dan dapat dihunakan oleh suatu entitas serta jumlah unit produksi atau unit sejenis yang diharapkan dapat dihasilkan dari suatu aset oleh entitas.  Model Biaya dalam aset tidak berwujud didasarkan pada pengakuan awal suatu aset tidak berwujud yang berasal dari biaya perolehan dikurangi oleh akumulasi penyusutan dan akumulasi kerugian atas penurunan nilai. Sedangkan untuk metode revaluasi aset tidak berwujud didasarkan pada nilai pasar yang terjadi pada tanggal revaluasi dikurangi nilai akumulasi penyusutan selanjutnya dan akumulasi kerugian penurunan nilai aset selanjutnya. Untuk tujuan ini maka nilai wajar harus ditentukan dengan menggunakan refrensi dari sebuah pasar aktif. Akan tetapi jika nilai wajar dari aset tidak berwujud yang telah direvaluasi tidak lagi dapat ditentukan dengan refrensi pasar aktif maka jumlah tercatat aset haruslah nilai revaluasi pada tanggal terakhir kali revaluasi dilakukan dengan refrensi nilai pasar aktif dikurangi dengan akumulasi biaya penyusutan dan akumulasi biaya kerugian penurunan nilai.

Masa manfaat aset tidak berwujud berdasarkan PSAK no 19 disebutkan bahwa entitas harus mampu menilai apakah masa manfaat aset tidak berwujud terbatas atau tidak terbatas, dan jika terbatas maka jangka waktu atau jumlah produksi atau jumlah unit yang serupa dihasilkan selama masa manfaat, jika tidak takterbatas maka berdasarkan analisis dari seluruh faktor relevan akan tidak ada batas yang terlihat pada saat ini atas periode yang mana aset diharapkan mengahsilkan arus kas bersih bagi entitas. Untuk pengungkapan aset tidak berwujud maka suatu entitas harus mengungkapkan hal-hal berikut untuk setiap aset tidak berwujud, dipisahkan antara aset tidak berwujud yang dihasilkan secara internal dan aset tidak berwujud lainnya serta jumlah tercatat bruto dan akumulasi penyusutan pada awal dan akhir periode.

Sekian artikel ini dibahas, apabila ada yang kurang jelas dari artikel atau ada yang ingin dikonsultasikan, silahkan menghubungi di 031 – 734 6576 / 087 777 510 668 / 0821 3100 8700

Created by : Adi Dwi Prasetyo (EC of D’Consulting Business Consultant)

©2019 D'Consulting Business Consultant - Total Solution for Your Business Growth

Log in with your credentials

Forgot your details?